Ahmad Hisyam Dimas Satrio Aji
Bergabung bersama Ahmad Hisyam Dimas Satrio Aji di
Bergabung bersama Ahmad Hisyam Dimas Satrio Aji di
Ahmed Alaqra is an artist and a curator whose practice interrogates the aesthetics of power embedded in everyday life. Working across various mediums and formats, his work attempts to disrupt dominant narratives that shape collective perception. Rooted in unmaking and unlearning, his curatorial and artistic methodologies foreground these acts as tools for reconstructing narrative.
Ahmed has participated in and curated numerous exhibitions across Europe and the Arab world. His latest exhibition, I Will Write Our Will Above the Clouds, toured multiple cities. He also co-curated Salt-Kissed at Hayy Jameel in Jeddah and served as guest curator for several exhibitions at the Palestinian Museum. His work has been exhibited at institutions and galleries including the Palestinian Museum, Al Qattan Foundation, Dar Jacir, ICD Brookfield Place in Dubai, and Spore Initiative in Berlin, among many others. He was recently nominated for the Art Here 2025 prize by Louvre Abu Dhabi and Richard Mille.
Ahmed co-founded the FANA’ Collective—an experimental, discursive platform that places deconstruction at the heart of its artistic ethos. In 2020, he also co-founded EL-GORFEH, the first community darkroom in Palestine.
His writing and visual work have been published in FOMU, The Funambulist, Jerusalem Quarterly, Discontent, and Arab Pop. He co-edited The Black Journal and authored the photo-poetry book I Died a Thousand Times, produced in collaboration with Dar Jacir in Bethlehem.
Ahmed co-founded the FANA’ Collective—an experimental, discursive platform that places deconstruction at the heart of its artistic ethos. In 2020, he also co-founded EL-GORFEH, the first community darkroom in Palestine.
His writing and visual work have been published in FOMU, The Funambulist, Jerusalem Quarterly, Discontent, and Arab Pop. He co-edited The Black Journal and authored the photo-poetry book I Died a Thousand Times, produced in collaboration with Dar Jacir in Bethlehem.
Bergabung bersama Amara Wijaya di
Artem Humilevskyi adalah seniman visual Ukraina yang mengeksplorasi fotografi konseptual dan menggunakan tubuhnya sebagai medium artistik untuk membahas perang, isolasi, ingatan sejarah, dan trauma kolektif.
Bergabung bersama Aziziah Diah Aprilya di
Bergabung bersama Bangun Indra Pratama di
Bergabung bersama Ben Laksana di
Bergabung bersama Ceicillia Dita di
Chantal Pinzi, aktivis visual di Berlin, Jerman, yang berfokus pada fotografi dokumenter dan jurnalistik. Karyanya mengangkat isu-isu ketangguhan dalam komunitas-komunitas yang terpinggirkan melalui suara-suara perempuan.
Bergabung bersama Christian Babista di
Duy-Phuong Le Nguyen, tumbuh dalam keluarga fotografer, menempuh jalur berbeda melalui praktik fotografi dokumenter untuk menyoroti isu sosial di dalam dan di luar lingkungan sekitarnya.
Bergabung bersama Elena Sarrah Novia di
Bergabung bersama Faishal Muhammad Dzulfiqar di
Federico Estol adalah seorang pencerita visual dan aktivis seni sosial asal Uruguay. Saat ini, ia sedang mengembangkan proyek jangka panjang yang mengeksplorasi hubungan antara identitas budaya, ketimpangan, dan keadilan sosial.
Bergabung bersama Fiezu Himmah di
Gabriel Barreto Bentín adalah fotografer Peru yang memadukan fotografi dan antropologi budaya. Karyanya mengangkat identitas dan budaya masyarakat adat. Ia mendirikan Encuentros Foundation dan menerbitkan Andinos (Rizzoli, 2022).
Bergabung bersama Gabriel Barreto Bentin di
Gui Christ adalah seniman berbasis lensa asal Brasil yang mengeksplorasi dampak kolonialisme melalui narasi Afro-diaspora, menggabungkan fotografi, antropologi, dan riset tentang memori, ketimpangan, dan resistensi.
Jake Homovich, fotografer dokumenter yang beraktivitas di Tiongkok dan Amerika Serikat. Karya-karyanya dibangun dari keterlibatan jangka panjang dan kolaborasi seputar isu kelas sosial, tenaga kerja, migrasi, dan globalisasi.
Juliana Tan adalah fotografer yang berbasis di Singapura. Praktik berkaryanya mengeksplorasi dimensi psikologis dan simbolik dari ingatan, identitas, dan politik melalui pendekatan pasca dokumenter.
Bergabung bersama Juliana Tan di
Karl Mancini, fotografer dokumenter asal Italia. Selama lebih dari dua dekade, ia telah bekerja di lebih dari 90 negara berfokus pada kekerasan gender, HAM, migrasi, kelompok minoritas, serta dampak konflik dan perubahan iklim.
Kunga Tashi Lepcha, fotografer yang berbasis di Gangtok, Sikkim. Praktiknya berfokus pada fotografi dokumenter dan eksperimental serta riset untuk membayangkan kembali jalinan sosial, spiritual, dan ekologis kawasan Himalaya.
Liss Fenwick adalah seniman Australia yang berkarya melalui fotografi, video, suara, dan proses material. Karyanya mengulas secara kritis isu lahan, ekstraktivisme, dan warisan kolonial di utara Australia.
Bergabung bersama Lulu Azmi Salsabila di
Min Ma Naing adalah seniman pengasingan asal Myanmar yang berbasis di Berlin. Praktiknya meliputi fotografi, artist book, dan kolaborasi untuk mengeksplorasi memori, pengungsian, serta sejarah personal dan kolektif.
Natthaya Thaidecha adalah fotografer asal Bangkok yang mengeksplorasi duka, keyakinan, kuasa, memori, dan keluarga melalui pengalaman personal, menyoroti keterkaitan kehidupan pribadi dengan struktur sosial dan politik.
Nicola Muirhead adalah fotografer dokumenter asal Bermuda yang meneliti bagaimana sejarah membentuk masa kini. Karyanya berbasis riset, kolaboratif, dan mengangkat suara komunitas.
Nopri Ismi adalah pencerita visual dan jurnalis asal Pulau Bangka. Karyanya berfokus pada isu budaya dan ekologi, serta dimuat di Project Multatuli, The Gecko Project, Mongabay Indonesia, dan NRC.nl.
Ore Huiying adalah fotografer asal Singapura yang mengeksplorasi manusia dan ruang yang dibentuk oleh pembangunan. Praktik dokumenternya mengulas perubahan sosial dan lingkungan di Asia Tenggara.
Bergabung bersama Reza Saifullah di
Rosa Panggabean is a documentary photographer based in Jakarta, Indonesia, with a background in photojournalism. Her practice is driven by an interest in human stories and the relationships between people, places, and the social contexts that shape their lives.
She is particularly drawn to questions of identity and social change, and how they intersect with broader issues. Her work often begins with observing everyday moments, while exploring portraits, landscapes, and visual symbols as contextual ways of storytelling. Through photography, Rosa is interested in how personal experiences intersect with broader social realities, and how seemingly ordinary moments can reveal deeper stories about people and the world around them.
Ryan Andrew adalah seniman visual dan fotografer asal Jakarta yang mengeksplorasi identitas, keintiman, dan gender melalui potret kolaboratif yang mengangkat suara komunitas yang kurang terwakili.
Bergabung bersama Ryan Andrew di
Santiago Escobar-Jaramillo adalah fotografer, editor, dan arsitek asal Kolombia. Karyanya mencakup fotografi, penerbitan, kurasi, serta praktik visual berbasis komunitas.
Bergabung bersama Santiago Escobar-Jaramillo di
Swastik Pal adalah seniman visual asal Kolkata yang bekerja dengan fotografi dan video. Karyanya mengeksplorasi sejarah personal, lanskap, ekologi, dan krisis iklim melalui proyek jangka panjang.
Tace Stevens adalah pencerita visual Noongar dan Spinifex asal Perth. Fotografi dokumenternya berfokus pada kisah masyarakat adat, kolaborasi komunitas, dan kedaulatan budaya.
Bergabung bersama Tengku Heru di
Yuki Furusawa adalah seniman Jepang yang berkarya melalui fotografi dan artist book. Ia mengeksplorasi keluarga, memori, identitas, dan benda personal, serta mengajak penonton mengenang pengalaman intim.