Selamat kepada seluruh seniman terpilih!
Tim kuratorial Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2026, Chelsea Chua (Singapura) dan Yoppy Pieter (Indonesia), telah memilih 22 proyek fotografi dan multimedia dari 17 negara untuk dipresentasikan dalam Pameran Foto JIPFest 2026 yang akan berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, pada 11–20 September 2026.
Proyek-proyek terpilih merupakan hasil seleksi melalui Panggilan Terbuka (6 April–11 Mei 2026) serta undangan kuratorial. Tahun ini, kami menerima 408 submission dari para seniman yang berasal dari 58 negara, mencerminkan keberagaman serta semangat praktik fotografi kontemporer dari berbagai penjuru dunia.
Terima kasih kepada semua yang telah berbagi cerita bersama kami. Sampai jumpa di JIPFest 2026.
How to Fabricate a Memory?
(2025 - 2026)
Palestina
Setelah kembali ke tanah kelahirannya di Palestina setelah 16 tahun hidup jauh darinya, Ahmed Alaqra merasa asing terhadap lanskap yang telah mengalami begitu banyak interpretasi dan intervensi. Dalam upaya membangun hubungan yang lebih personal dan intim dengan tanah tersebut, ia kembali pada negatif film dari foto-foto yang dibuat selama bertahun-tahun, memotong dan menyatukan gambar-gambar lanskap Palestina yang hidup dalam ingatan serta imajinasi kolektif dan personal. Karya-karya komposit ini memuat masa lalu dan masa depan, kehancuran dan harapan. Saya tersentuh oleh bagaimana kekerasan dalam proses pembuatannya hadir berdampingan dengan kelembutan dan kerinduan, ketika memori menjadi ruang untuk merebut kembali makna dan merawat ketangguhan.
Ahmed Alaqra adalah seniman, kurator, dan arsitek Palestina. Praktiknya yang lintas media mengkaji relasi kuasa dalam kehidupan sehari-hari serta menantang narasi dominan.
Ekshibitor
Roots
(2022 - Ongoing)
Artem Humilevskyi - Ukraina
Tubuh menjadi pusat perhatian dalam rangkaian potret diri Artem Humilevskyi yang kuat, yang dibuat sebagai respons terhadap perang yang masih berlangsung di Ukraina. Tragis, jenaka, sekaligus penuh kelembutan, tubuh Humilevskyi menjadi ruang tempat konflik, mitos, dan identitas nasional dipertarungkan. Saya tertarik pada bagaimana potret-potret diri ini menghubungkan kita dengan isu yang lebih luas tentang konflik militer dan kedaulatan nasional, sembari menampilkan kerentanan, ketangguhan, dan kekuatan.
Ekshibitor
Farīsāt: Gunpowder’s Daughters
2025
Chantal Pinzi - Italia
Berakar dari tradisi berkuda Tbourida di Maroko yang telah diakui UNESCO, proyek ini menyoroti resiliensi perempuan yang menantang batasan gender dalam sebuah praktik budaya yang selama berabad-abad didominasi laki-laki. Melalui dokumentasi para farīsāt (penunggang kuda perempuan), karya ini memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi terus berkembang melalui keberanian dan perjuangan untuk memperoleh ruang yang setara. Yang menarik bagi saya adalah bagaimana karya ini menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi ruang perubahan tanpa kehilangan akar budayanya.
Ekshibitor
Holding Water
(2010 - 2015)
Duy-Phuong Le Nguyen - Vietnam
Holding Water adalah proyek jangka panjang dari fotografer Duy Phuong Le Nguyen yang menggambarkan kehidupan di sepanjang tepi Danau Tri An, Vietnam, yang terdampak oleh pembangunan bendungan hidroelektrik. Setelah membangun hubungan dekat dengan komunitas yang tinggal di sekitar danau, Le Nguyen berkolaborasi dengan mereka untuk menciptakan tablo yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari. Saya terkesan oleh kualitas puitis dan nuansa pastoral dalam karya ini, yang menyimpan ketegangan akibat rapuhnya lingkungan mereka, tekanan pembangunan, serta ketangguhan yang dibutuhkan untuk terus bertahan.
Ekshibitor
Shine Heroes
(2018-2022) | Uruguay
Melalui kolaborasi erat dengan para penyemir sepatu di La Paz dan El Alto, Bolivia, proyek ini menyoroti resiliensi komunitas yang hidup di bawah stigma dan diskriminasi sosial. Topeng yang mereka kenakan menjadi simbol perlindungan, solidaritas, sekaligus perlawanan terhadap pengucilan. Dengan menjadikan mereka sebagai rekan pencipta narasi visual, karya ini menghadirkan representasi yang lahir dari pengalaman mereka sendiri. Saya tertarik pada pendekatan kolaboratifnya yang menjadikan fotografi sebagai ruang untuk merebut kembali martabat dan identitas.
Ekshibitor
Andinos
Peru
Seri potret karya Gabriel Barreto Bentin tentang komunitas masyarakat Andes di Cusco, Peru, menghadirkan pandangan yang intim dan jujur terhadap kehidupan sehari-hari serta keberagaman masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Dibuat selama masa tinggal sang fotografer dalam jangka panjang di kawasan ini, subjek-subjek dalam potret tersebut memancarkan rasa percaya dan kehangatan, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan modernitas.
Ekshibitor
M’kumba
(2019 - Ongoing) | Brazil
M’kumba adakah proyek fotografi jangka panjang yang mendokumentasikan ketangguhan komunitas Afro-Brasil dalam menghadapi intoleransi beragama. Bekerja bersama anggota komunitas ini, baik sebagai penganut maupun sebagai fotografer, Christ menciptakan potret-potret secara kolaboratif yang merujuk pada figur-figur mitologis dalam agama-agama Afro-Brasil, sekaligus mendokumentasikan simbol-simbol dan peninggalan religius. Saya menemukan kekuatan dalam gambar-gambar ini, terutama dalam cara mereka memancarkan daya dan agensi, serta bagaimana karya ini mengangkat komunitas yang terpinggirkan dan terus berjuang agar suara mereka dapat didengar.
Ekshibitor
Tibetan Country Doctor
(2023 - Ongoing) | USA
Di kawasan pegunungan Garzê, Prefektur Otonom Tibet di Sichuan Barat, tempat rumah sakit terdekat dapat bergerak hingga lima jam perjalanan, proyek ini menghadirkan resiliensi melalui dedikasi seorang dokter pedesaan dalam merawat komunitasnya. Memadukan fotografi dengan catatan tulisan tangan dari Zhaba Gyatso, karya kolaboratif ini melampaui dokumentasi praktik medis, sekaligus menyoroti bagaimana kepercayaan, pengetahuan lokal, dan hubunganantarmanusia menjadi fondasi ketahanan masyarakat yang hidup dalam keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Saya tertarik pada cara proyek ini memperluas bahasa dokumenter melaluikolaborasi, sehingga fotografi tidak hanya merekam, tetapi juga menjadi ruang berbagi perspektif dan pengalaman.
Ekshibitor
A Kind of Magic
(2014 - 2024) | Singapore
Terpaksa meninggalkan kota kelahirannya di Bandung, Indonesia, setelah kekerasan anti-Tionghoa yang terjadi pada Mei 1998, A Kind of Magic memperlihatkan Juliana Tan kembali mengunjungi tempat-tempat yang akrab dari masa kecilnya. Dalam proyek ini, fotografi menjadi sarana untuk menegosiasikan masa lalu dan masa kini, pengalaman personal dan kolektif, ingatan dan imajinasi. Saya tergerak oleh kerinduan yang lembut namun terus bertahan yang tertanam dalam gambar-gambar ini, serta bagaimana karya ini menyuarakan perlawanan yang sunyi terhadap penghapusan sejarah.
Ekshibitor
Vivi Para Contarlo / Live to Tell
(2017-2025) | Italy
Melalui dokumentasi jangka panjang yang membentang di berbagai negara, proyek ini mengungkap bagaimana kekerasan berbasis gender terus hadir dalam beragam bentuk dan melintasi batas geografis, sosial, maupun budaya. Di balik pengalaman trauma tersebut, karya ini menghadirkan kisah-kisah perempuan yang memilih untuk bersuara, membangun solidaritas, dan memperjuangkan hak-hak mereka. Bagi saya, kekuatan proyek ini terletak pada kemampuannya mengalihkan fokus dari kekerasan menuju keberanian perempuan yang terus menciptakan harapan dan mendorong perubahan sosial.
Ekshibitor

CHILDREN OF THE SNOWY PEAK
(2019 - Ongoing) | India
Berangkat dari pengalaman personal sang fotografer sebagai bagian dari masyarakat adat Lepcha di Sikkim, India, proyek ini menawarkan pembacaan tentang resiliensi melalui hubungan antar manusia, alam, dan ingatan kolektif. Di tengah ancaman pembangunan bendungan dan krisis iklim, karya ini memperlihatkan bahwa ketahanan juga tumbuh melalui upaya merawat pengetahuan adat dan hubungan spiritual dengan lanskap leluhur. Bagi saya, karya ini memperluas makna resiliensi sebagai kemampuan menjaga warisan budaya sekaligus melindungi alam.
Ekshibitor
The Colony
(2023-2026) | Australia
Dikembangkan di Larrakia Country, Northern Territory, Australia, proyek ini menawarkan refleksi tentang resiliensi melalui dialog antara pengetahuan kolonial dan cara-cara memahami dunia yang berakar pada tanah, tradisi lisan, serta alam. Dengan berkolaborasi bersama koloni rayap yang mengubah buku-buku kolonial menjadi objek skulptural, karya ini menentang otoritas arsip tertulis sekaligus membuka cara baru dalam memaknai ingatan dan sejarah. Saya tertarik pada pendekatan eksperimentalnya yang mempertanyakan siapa yang berhak membentuk pengetahuan dan sejarah.
Ekshibitor
When Spring Never Comes
(2024 - Ongoing) I Myanmar
Pada 2024, Min Ma Naing dipertemukan kembali dengan negatif-negatif foto yang Ia tinggalkan di Myanmar saat dia melarikan diri dari kudeta militer. Waktu dan pajanan (exposure) meninggalkan tanda pada negatif-negatif tersebut, seperti yang diungkapkan sang seniman, “Apa yang bertahan tidak pernah kembali dalam keadaan yang sama”. Cetakan dari negatif-negatif ini dipamerkan berdampingan dengan foto-foto yang dibuat Min Ma Naing di tempat tinggalnya saat ini di Berlin, yang dikembangkan menggunakan proses alternatif. Karya ini begitu kuat dalam upayanya mempertemukan masa lalu dengan masa kini, diri kita yang dahulu dengan diri kita yang sekarang. Ia berkata, apa yang hilang dalam tindakan melawan dan bertahan hidup, dan apakah harga yang harus dibayar untuk itu terlalu berat untuk ditanggung.
Ekshibitor
May the Matter Rest
(2020 - Ongoing) |Thailand
Setelah kematian ibunya pada 2020, Natthaya Thaidecha dan saudara-saudaranya menemukan bahwa ibunya terlibat dalam jaringan rumit masalah finansial yang harus mereka selesaikan setelah kepergiannya. Menghadapi ancaman dari pihak-pihak berwenang serta proses hukum yang tak kunjung usai, mereka harus menjalani duka sekaligus memikul beban tanggung jawab yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Saya tertarik pada kerentanan dan kejujuran dalam karya ini, pada bagaimana ia menangkap dampak emosional yang dapat dibawa oleh cinta dan keluarga, sekaligus ketangguhan yang dibutuhkan untuk terus melangkah.
Ekshibitor
Descendants of Summer
(2018 - Ongoing) | Bermuda
Berakar dari sejarah kolonial Bermuda, proyek ini menelusuri bagaimana identitas, ingatan, dan warisan perbudakan terus membentuk kehidupan masyarakat hingga hari ini. Melalui perpaduan potret, lanskap, arsip, dan sejarah lisan yang dikembangkan bersama komunitas lokal, karya ini menghadirkan ruang refleksi tentang resiliensi sebagai proses merawat ingatan, merebut kembali narasi yang terpinggirkan, dan membangun rasa memiliki di tengah jejak panjang kolonialisme. Bagi saya, karya ini menunjukkan bahwa mengingat adalah bagian penting dari resiliensi, terutama ketika sebuah komunitas berupaya menulis kembali sejarahnya dari perspektif mereka sendiri.
Ekshibitor
Nature’s Retaliation
(2025 - Ongoing) | Indonesia
Penambangan timah di Kepulauan Bangka Belitung telah berlangsung selama beberapa generasi, menyebabkan degradasi sungai dan mengancam habitat buaya air asin, makhluk yang telah bertahan dari berbagai kepunahan massal selama jutaan tahun. Seiring meluasnya area tambang, masuknya manusia ke wilayah teritori buaya menyebabkan meningkatnya konflik dan serangan terhadap manusia, yang kemudian memicu tindakan balasan berupa pemindahan atau pembunuhan buaya. Melalui gambar-gambar ini, saya melihat bagaimana ketangguhan satwa purba ini diuji, sekaligus bagaimana aktivitas ekstraktif tersebut juga membawa dampak berat bagi manusia.
Ekshibitor
We Were Farmers
(2008-2020) | Singapore
Pada 2020, lahan pertanian milik keluarga Ore Huiying resmi ditutup setelah pemerintah menetapkan kawasan tersebut untuk proyek pembangunan perumahan. Peristiwa ini menandai berakhirnya usaha keluarga yang telah bertahan selama tiga generasi, sekaligus hilangnya sebuah ruang tempat tumbuhnya penghidupan, ikatan kekeluargaan, dan pengetahuan. Saya terkesan oleh cara foto-foto Ore dengan lembut menggambarkan ketangguhan yang dibutuhkan untuk membangun usaha pertanian di negara dengan lahan yang terbatas, sekaligus menghadapi kehilangannya dengan penuh ketenangan.
Ekshibitor
How Must I Live?
(2024 - Ongoing) | Indonesia
Drawing on his own lived experience as a queer individual who grew up in a conservative Chinese family, Ryan Andrew sought out artistic collaborators with whom he explored ideas of identity, desire and kinship. In these images, we see portraits and symbols that gesture to a solidarity formed through a shared vulnerability and resilience; I particularly like how photography becomes a means through which to gain agency and acceptance by reframing the ways in which the body is seen and understood.
Ekshibitor
El pez muere por la boca / The Fish Dies by Its Mouth
(2016-2024) | Colombia
Di tengah narasi yang kerap mereduksi wilayah pesisir Kolombia menjadi ruang yang dibayangi perdagangan narkotika dan kekerasan bersenjata, Santiago Escobar-Jaramillo menghadirkan perspektif yang lebih mendalam tentang resiliensi sebagai praktik kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan partisipatoris dan performatif, ia menempatkan masyarakat sebagai kolaborator aktif dalam membangun representasi atas pengalaman mereka sendiri, memperlihatkan bagaimana tradisi, ingatan, dan relasi sosial menjadi kekuatan untuk mempertahankan martabat dan identitas. Yang membuat karya ini begitu penting bagi saya adalah keberhasilannya menggeser perhatian dari narasi konflik menuju kemampuan sebuah komunitas untuk terus merawat kehidupan, menjaga kebersamaan, dan menciptakan ruang harapan di tengah tekanan yang terus berlangsung.
Ekshibitor
In The Shadow of the Tiger
(2022-2024) | India
Didokumentasikan selama lebih dari satu dekade di Kepulauan Sundarbans, India, proyek ini menghadirkan resiliensi melalui kehidupan masyarakat yang terus beradaptasi dengan kerentanan ekologis dan konflik antara manusia dengan harimau Bengal. Di tengah perubahan lingkungan yang semakin nyata, karya ini menunjukkan bahwa ketahanan tumbuh dari kemampuan komunitas menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, pelestarian alam, dan warisan budaya. Yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana proyek ini memperlihatkan hubungan manusia dan alam sebagai fondasi utama resiliensi.
Ekshibitor
We Were Just Little Boys
(2023-2025) | Australia
Berangkat dari sejarah Kinchela Aboriginal Boys Training Home di Australia, proyek ini menghadirkan resiliensi melalui pengalaman para penyintas Stolen Generations yang kembali menghadapi ruang penuh trauma. Dengan pendekatan observasional dan potret, fotografer tidak hanya mendokumentasikan sebuah situs bersejarah, tetapi juga membuka ruang bagi para penyintas untuk merebut kembali narasi mereka. Yang membekas bagi saya adalah bagaimana topografi menjadi medium untuk mendengar, mengingat, dan mengembalikan ruang bagi suara-suara yang selama ini disingkirkan.
Ekshibitor
Bye Bye Home Sweet Home
(2021-2024) \ Japan
Ketika rumah neneknya dijadwalkan untuk dibongkar, Yuki Furusawa bersama ibu dan saudara perempuannya memulai proses yang panjang dan melelahkan untuk memilah barang-barang milik sang nenek sebagai persiapan kepindahannya. Saat menelusuri ribuan benda, sebagian diantaranya telah disimpan selama puluhan tahun, ia menyadari bahwa setiap benda menyimpan kenangan yang begitu berharga; kenangan yang, seiring bertambahnya usia sang nenek, kian rapuh dan semakin sulit dipertahankan. Saya tertarik pada cara Furusawa, dalam upayanya mengabadikan rumah neneknya dan keterikatan sang nenek pada benda-benda keluarga, menciptakan foto-foto yang dipenuhi kelembutan, humor, dan kerinduan, kerinduan agar kenangan-kenangan itu mampu bertahan dari gerusan waktu.

































































