JIPFest mengumumkan daftar kurator menjelang edisi keenam festival. Chelsea Chua dan Yoppy Pieter kembali sebagai kurator melanjutkan peran mereka pada festival edisi 2025. Mereka akan menggarap open call dan melakukan riset kuratorial untuk mengeksplorasi serta membentuk narasi sesuai tema festival, RESILIENCE, ke dalam pameran.

Yoppy telah berkarya di bidang penciptaan dan pendidikan fotografi di Indonesia selama lebih dari satu dekade, sementara Chelsea membawa pengalaman multidisipliner dalam memproduksi program dan pameran, serta memimpin berbagai inisiatif pengembangan di ranah ini. Keahlian mereka akan memantik diskusi yang mendalam mengenai isu-isu seputar kemampuan manusia untuk beradaptasi dan bertahan menghadapi kesulitan dalam hidup.

Chelsea mengatakan, “Saya menantikan untuk melihat karya-karya berbasis gambar yang merespons tema ini secara luas, yang tidak hanya berfokus pada bencana, tetapi juga pada bagaimana ketangguhan memungkinkan kita untuk tumbuh dalam solidaritas dan semangat. Saya juga tertarik pada praktik-praktik yang menantang konvensi dan membayangkan dunia dengan cara yang berbeda, untuk menunjukkan potensi fotografi yang tak terbatas dalam menghadirkan kejutan dan cara baru dalam melihat dunia kita.”

Yoppy menambahkan, “Saya mencari narasi visual yang mengeksplorasi resilience dalam spektrum yang lebih luas. Ia tidak hanya berarti bertahan, melainkan sebuah upaya aktif untuk beradaptasi, untuk pulih, dan untuk tumbuh. Ketangguhan bukan sekadar kekuatan untuk melawan, melainkan kemampuan menerima kerentanan, merespons perubahan, dan menemukan makna baru – resilience hadir sebagai proses yang hidup, tidak selalu lurus, dan tetap manusiawi.”

Tim kuratorial akan mempresentasikan karya-karya foto terkurasi kepada publik untuk menghadirkan pengalaman yang imersif bagi para pengunjung, sekaligus menggarap presentasi publiknya. Selain itu, mereka juga akan membuka ruang percakapan mengenai tema tersebut dalam konteks sosial dan personal melalui catatan kuratorial serta diskusi terbuka selama festival berlangsung.

Klik di sini untuk mengirimkan karyamu agar dapat dipamerkan dalam festival.

Chelsea Chua adalah seorang pekerja budaya yang memiliki ketertarikan pada relasi kita dengan gambar dan praktik penciptaan gambar. Perannya sebagai Programme Director di Objectifs Centre for Photography and Film (Singapura) mencakup pengawasan berbagai program dan pameran, serta memimpin inisiatif pengembangan.

Ia bekerja secara langsung dengan para seniman, fotografer, kurator, pembuat film, dan berbagai entitas budaya di seluruh Asia Tenggara untuk mengembangkan proyek-proyek seperti pameran, diskusi, lokakarya, dan program mentorship. Chelsea juga menjadi mentor untuk South Asia Incubator, Photo Kathmandu (2025), pernah menjadi ko-kurator untuk Jakarta International Photography Festival (2025), serta terlibat sebagai panel seleksi untuk berbagai acara seperti Singapore Shorts (2021) dan FotomotoPH (2024). Ia juga telah memberikan presentasi dan menyelenggarakan lokakarya di berbagai platform regional seperti Angkor Photo Festival, FotomotoPH, dan Hong Kong International Photography Festival.

Yoppy Pieter adalah seorang pencerita visual, pendidik, dan kurator yang berbasis di Jakarta. Ia memulai perjalanan fotografi melalui lokakarya yang diselenggarakan oleh PannaFoto Institute, yang menjadi landasan penting bagi pendekatan dokumenternya. Ia kemudian berpartisipasi dalam berbagai program regional dan internasional bergengsi, termasuk Permata PhotoJournalist Grant (2011), Angkor Photo Workshop (2012), Erasmus Huis Fellowship ke Amsterdam (2015), South-East Asia & Oceania 6×6 Global Talent Program (2017), serta Joop Swart Masterclass (2019). Karyanya telah dipamerkan di berbagai perhelatan utama seperti Jakarta Photo Summit #3 (2014), Jakarta Biennale (2015), Photography for Tolerance and Diversity (2017), Mt Rokko International Photo Festival (2018), dan SPECTROSYNTHESIS II (2019).

Terbaru, pada 2023, ia terpilih sebagai National Geographic Explorer dan menerima hibah dari National Geographic Society. Karyanya juga dipublikasikan dalam buku foto Saujana Sumpu (2016). Bersama para kolaborator dari berbagai disiplin, Yoppy turut mendirikan Arkademy, sebuah inisiatif pendidikan yang mendorong fotografi sebagai medium yang kritis dan reflektif. Ia juga mengembangkan Heterogenic, sebuah ruang yang merayakan keragaman visual Indonesia serta mendorong dialog antar fotografer di seluruh nusantara.