JIPFest 2023 menampilkan lima sesi diskusi; semuanya digelar pada akhir pekan di Teater Bulungan. Tahun ini, demi mendukung keberlangsungan festival, JIPFest memberlakukan sistem tiket Talk Show Pass untuk semua program di Teater Bulungan.

SABTU, 9 SEP, 15:00-16:30, TEATER BULUNGAN

Generation: Tema Kuratorial JIPFest 2023
Generation, tema JIPFest 2023, menjelajahi isu seputar generasi, beserta dinamika dan konsekuensinya. Berpegang pada tema ini, tim kurator telah memilih 24 karya fotografi dan multimedia dari 13 negara untuk dipamerkan. Apa saja isu dan wacana yang dipetakan tim kurator, dan seperti apa konsep presentasinya?

Pembicara:
Asep Topan
Asep, kurator dan pengajar seni rupa, lulus dari program studi pascasarjana kuratorial di Institut Teknologi Bandung. Dia telah bekerja 10 tahun sebagai dosen di IKJ. Sebagai kurator, ia merupakan bagian dari tim kuratorial Jakarta Biennale 2015, menjabat wakil direktur Jakarta Biennale (2016-18), dan menjabat kurator Museum MACAN (2018-21). aseptopan.com

Ng Swan Ti
Swan Ti, Direktur Pelaksana PannaFoto Institute, aktif terlibat dalam berbagai inisiatif fotografi, baik sebagai kurator ataupun mentor, contohnya dalam pameran Vision 20/20: Community (Jakopič Gallery, 2020), Erratic Dream (PhMuseum, 2021), Tracing Inherited History (Hong Kong International Photo Festival 2021), dan Objectifs Documentary Award 2023. pannafoto.org

Moderator: Rizqi Qadarsyah
Rizqi, mahasiswa Program Studi Fotografi ISI Surakarta, memiliki minat dalam sejarah seni, kuratorial, kritik seni, serta pengarsipan. Dia pernah menjabat Program Director Solo Photo Festival, serta menjadi kurator di sejumlah pameran, termasuk Lesser Sunda oleh Eureka R’bee MD, Batas oleh Perbanas Institute, serta Besment oleh Rafli Alif Putra. @rizqiboo

Sesi ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Klik di sini untuk memesan Talk Show Pass.

MINGGU, 10 SEP, 15:00-16:30, TEATER BULUNGAN

Mengoleksi Karya Foto
Lebih terjangkau dibandingkan lukisan atau patung, foto punya magnet di kalangan kolektor pemula. Di sisi lain, pemain di ceruk ini lebih terbatas, dan “kelangkaan” ini membuat pasar foto punya daya tariknya tersendiri. Apa saja yang perlu diketahui sebelum mengoleksi foto, dan dari mana memulainya? Untuk fotografer, seperti apa dinamika pasar foto saat ini? 

Pembicara:
Andy Dewantoro
Andy adalah seorang artis visual dan Artistic Director Ruang Dini. Karya-karyanya pernah dipamerkan di sejumlah negara, termasuk Korea Selatan, Hong Kong, dan Inggris. Dia pernah menggelar sejumlah pameran solo, termasuk Half Full Half Empty (2011, Kuala Lumpur); Empty-space-landscapes (2010, Semarang), dan Silent World (2008, Jakarta). galeriruangdini.com

Windi Salomo
Sejak 2005, Windi terlibat sebagai penggagas dan produser beragam proyek seni, termasuk Locafore – art, design & jazz festival (Bandung) dan Kota Tua Creative Festival (Jakarta). Dia juga merupakan salah seorang pendiri Ark Galerie dan Dia.lo.gue Artspace, juga menjadi kurator pameran ARTOTEL Group dan pengelola ruang seni SAL Project. @windisalomo

Evelyn Halim
Sejak lima tahun silam, Evelyn mulai mengoleksi karya seni kontemporer dengan beragam medium, termasuk fotografi, VR, dan instalasi. Koleksinya dipengaruhi buku yang dibacanya, dan dia bertekad membeli setidaknya satu karya berdasarkan buku yang dibacanya. Pada 2022, Evelyn terlibat sebagai anggota juri Bandung Contemporary Art Awards 7.

Moderator: Dian Ina Mahendra
Ina, Head of Exhibitions di Museum MACAN, memiliki latar belakang politik internasional dengan minat pada identitas budaya. Sebelum bergabung dengan Museum MACAN, dia mengelola program-program seni rupa untuk Salihara Art Center. Dia adalah salah satu penerima fellowship Asian Cultural Council (2013-2014) dengan pengalaman yang luas dalam pengelolaan institusi seni rupa, organisasi nirlaba, pengembangan komunitas dan pengorganisasian partisipasi masyarakat. @kemiri

Sesi ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Klik di sini untuk memesan Talk Show Pass.

SABTU, 16 SEP, 15:00-16:30, TEATER BULUNGAN

Pemuda & Pergerakan: 25 Tahun Reformasi
Walau bukan aktor tunggal, pemuda punya peran monumental dalam melahirkan era Reformasi pada 1998. Seperempat abad berselang, apa catatan yang bisa dipetik dari peran mereka dalam mendorong perubahan? Dan, saat kini populasi Gen-Z dan milenial paling dominan, peran estafet apa yang bisa mereka ambil agar cita-cita luhur Reformasi berlanjut?

Pembicara:
Erik Prasetya
Erik, yang kerap dijuluki “pelopor fotografer jalanan di Indonesia,” pernah tercantum dalam daftar 20 Most Influential Asian Photographers versi Invisible Photographer Asia. Pria kelahiran Padang ini sudah menghasilkan lima buku foto, salah satunya Eros & Reformasi yang mengisahkan perjuangan pemuda dalam menggulingkan Soeharto. @banalaesthetic

Evi Mariani
Evi adalah pendiri dan Direktur Eksekutif Project Multatuli. Sebelumnya, dari 2018 sampai Januari 2021, dia menjabat Managing Editor di The Jakarta Post. Bersama beberapa wartawan dari media lain, Evi menerima Excellence in Public Service Journalism Award dari Society of Publishers in Asia (SOPA) pada 2020 dan Tasrif Award 2020 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk kerja kolaborasinya #NamaBaikKampus. projectmultatuli.org

Virliya Putricantika
Virli, alumni Permata Photojournalist Grant, memulai karir sebagai pewarta foto pada 2021 di BandungBergerak.id, salah satu media online di Bandung. Menekuni fotografi jurnalistik sejak masa kuliah, dia tertarik dengan isu-isu sosial khususnya gender, keberagaman dan hak asasi manusia. Saat ini, dia turut terlibat dalam berbagi pengalaman dengan anak-anak muda dan beberapa komunitas di Bandung untuk bercerita lewat foto. @virliyap

Moderator: Joan Aurelia Rumengan
Joan Aurelia adalah seorang presenter dan penulis di Tirto.ID. Saat ini, dia turut aktif sebagai co-produser/presenter podcast Project Multatuli. Dia terlibat dalam program dan rubrik bertema budaya populer, sosial, politik, dan perempuan. Di waktu senggangnya, dia mengasuh blog Restofworld.org. Selain itu, dia menjadi kontributor pada portal internasional, di antaranya New Naratif dan BBC World Service. @joanrumengan

Sesi ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Klik di sini untuk memesan Talk Show Pass.

MINGGU, 17 SEP, 15:00-16:30, TEATER BULUNGAN

Desain Buku Foto: Eksplorasi & Eksperimen
Tak hanya berkorespondensi dengan isi buku, desain berperan vital dalam membentuk pengalaman publik menikmati buku. Dari gaya tata letak, konsep sampul, permainan tipografi, pilihan kertas, hingga metode jilid—semua elemen ini berkesinambungan dan menjadi kesatuan dengan narasi buku. Seperti apa perkembangan desain buku foto di Indonesia? 

Pembicara:
Jordan Marzuki
Desainer grafis ini mempelajari komunikasi visual di Hochschule für Gestaltung und Kunst di Basel. Lewat karyanya, Jordan, pendiri penerbitan Jordan, jordan Édition, memperoleh penghargaan Type’s Director’s Club 2010, Indonesian Graphic Design Award 2017, dan Photobook of the Year 2021 dari Paris Photo–Aperture Foundation Photobook Awards. jordanjordan.co

Andi Ari Setiadi
Usai bekerja sebagai desainer grafis dan fotografer di Arga Calista Design dan Galeri Foto Jurnalistik Antara, Andi Ari pada 2014 mendirikan Gueari Galeri, sebuah platform penerbitan merangkap galeri buku foto di Jakarta. Beragam judul pernah diterbitkannya, termasuk Dot Pixel; Indonesia, a Surprise; Indonesia (a World of Treasure); serta Kilas Balik. @guearigaleri

Aditya Pratama
Adit adalah pendiri dan pengasuh Unobtainium Photobooks, toko buku yang berfokus pada buku-buku fotografi dan aktif berpartisipasi dalam pergelaran bursa buku dan festival foto di dalam dan luar negeri, termasuk Photobook JP Book Fair in Yokohama, Singapore International Photography Festival, serta Jakarta Art Book Fair. unobtainium.store

Moderator: Tasya Bintang
Tasya adalah seorang fotografer lifestyle dan desainer grafis lepas dengan latar belakang pendidikan desain komunikasi visual. Dia pernah terlibat dalam pembuatan beberapa buku foto, serta memiliki pengalaman sebagai produser dan copywriter di agensi. tasyabintang.com

Sesi ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Klik di sini untuk memesan Talk Show Pass.

SABTU, 23 SEP, 15:00-16:30, TEATER BULUNGAN

Suara Orang Muda: Demokrasi Hari ini
Demokrasi acap kali dianggap sebagai konsep abstrak yang hanya menjadi urusan negara, politikus, aktivis dan kalangan tertentu. Nyatanya, demokrasi adalah prinsip yang menjadi hal penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana interpretasi Generasi Z -kelompok yang kini mendominasi jumlah penduduk Indonesia- terhadap demokrasi di Indonesia saat ini?

Pembicara:
Alfian Romli
Romli, fotografer muda yang berbasis di Lombok, saat ini sedang menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di Universitas Mataram. Dia mulai mengenal dunia fotografi pada 2017, ketika mengelola komunitas fotografi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKOM) UNRAM.

Deti Permatasari
Deti, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, mengenal fotografi saat duduk di bangku sekolah menengah, dan mewadahi minatnya dengan bergabung di UKM I-Fotografi UHAMKA. Baginya, fotografi merupakan media untuk bercerita, membagikan momen, informasi, juga keresahan.

Dini Putri Rahmayanti
Dini, mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Pendidikan Indonesia, memiliki pengalaman kerja dan minat dalam bidang jurnalistik, fotografi, penulisan dan media sosial kreatif. Pencapaian terbesarnya ialah mampu mewujudkan harapannya saat masih duduk di bangku SMK untuk menjadi jurnalis.

Vickram Sombu
Vickram, fotografer yang berbasis di Kupang, bergabung dengan Komunitas Film Kupang sembari meniti karier sebagai fotografer dan pembuat film. Minatnya pada fotografi, film, seni, dan budaya mengantarkannya terpilih menjadi salah satu peserta workshop fotografi dan pameran Permata Youth Photostory 2022: JOURNEY di Jakarta.

Moderator: Charlenne Kayla Roeslie
Charlenne, Program Officer PannaFoto Institute, memiliki ketertarikan khusus pada isu media, gender, identitas, dan literasi. Sebelumnya, dia bekerja sebagai jurnalis penuh waktu. Dia juga aktif berkegiatan di HopeHelps Network.

Sesi ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Klik di sini untuk memesan Talk Show Pass.

MINGGU, 24 SEP, 15:00-16:30, TEATER BULUNGAN

AI & Masa Depan Fotografi 
Ancaman atau semata alat, yang pasti AI membelah opini dunia, termasuk di dunia fotografi. Sejumlah fotografer dan artis visual memanfaatkannya dalam berkarya. Sebagian lain masih bimbang, alergi, atau tegas menolak: foto AI bukan karya fotografi! Di luar pro kontra itu, ada isu lain yang mengusik: soal hak cipta, etika, regulasi. Seberapa jauh AI mentransformasi dunia fotografi? 

Pembicara:
Mamuk Ismuntoro
Mamuk, seorang pewarta foto lepas, pernah bekerja untuk Radar Surabaya, Majalah Mossaik, Surabaya Post, dan Indonesia Inside. Dia kini mengajar fotojurnalistik di tingkat perguruan tinggi, mengasuh platform Matanesia, serta menulis kolom fotografi di Harian Kompas. Buku foto karyanya, Tanah Yang Hilang, diterbitkan oleh PannaFoto Institute pada 2014. @mamukofficial

Nurulita Adriani Rahayu
Selain bekerja sebagai fotografer komersial, Nurulita aktif mengajar fotografi. Dia pernah menjadi bintang tamu fotografer Asia’s Next Top Model di Kuala Lumpur, fotografer resmi untuk publikasi Asian Games 2018, serta fotografer eksklusif Kementerian Pariwisata Indonesia untuk publikasi 10 Destinasi Prioritas Indonesia. nurulita.com

Alfons Tanujaya
Alfons, seorang pemerhati teknologi, merupakan pendiri dan direktur dari Vaksincom. Dia juga mengajar di Prasetya Mulya Business School, dan kerap menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya bidang teknologi. Selain itu, dia menjadi kontributor di lembaga pemerhati teknologi ID Institute serta beberapa portal dan majalah IT. @alfonstan

Moderator: Peksi Cahyo
Peksi, mantan redaktur foto Tabloid Bola, pernah meliput beragam peristiwa olahraga termasuk Euro Cup 2008, World Cup 2010, dan MotoGP. Dalam empat tahun terakhir, dia bekerja independen untuk proyek komersial dan editorial. Peksi merupakan anggota 1000Kata dan salah seorang pendiri komunitas Dalkotloop. peksicahyo.id

Sesi ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia. Klik di sini untuk memesan Talk Show Pass.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi program@jipfest.com atau 0813-1038-7844 (Bulan). JIPFest berlangsung dari 8-24 September 2023 di Blok M, Jakarta. Festival ini didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Erasmus Huis, serta Kurawal Foundation.