Federico Estol, “Shine Heroes”

Tim kuratorial Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2026, yang terdiri dari Chelsea Chua (Singapura) dan Yoppy Pieter (Indonesia), telah memilih 22 proyek fotografi dan multimedia dari 17 negara untuk dipamerkan dalam Pameran Foto Festival, yang akan berlangsung dari 11 hingga 20 September 2026.

Proyek terpilih berasal dari panggilan terbuka yang berlangsung pada 6 April hingga 11 Mei 2026, serta undangan dari kurator. Pemilihan akhir dilakukan dari 408 karya yang mewakili artis dari 58 negara.

Artem Humilevskyi, “Roots”

Tema tahun ini, RESILIENCE, mengajak kita merefleksikan berbagai bentuk ketangguhan di tengah dunia yang terus diwarnai oleh perubahan, ketidakpastian, dan berbagai krisis. Mulai dari konflik, ketimpangan sosial, hingga krisis iklim, tantangan-tantangan tersebut membentuk cara individu maupun komunitas bertahan, beradaptasi, dan membangun harapan.


Melalui tema ini, JIPFest 2026 mengundang publik untuk melihat ketangguhan bukan sebagai kualitas yang tunggal atau heroik, melainkan sebagai pengalaman yang hadir dalam beragam konteks dan cara. Berbagai proyek yang terpilih menawarkan perspektif yang berbeda-beda tentang bagaimana manusia, komunitas, budaya, dan lingkungan terus bernegosiasi dengan perubahan, kehilangan, dan kemungkinan akan masa depan.

Ahmed Alaqra, “How to Fabricate a Memory?”

Chelsea Chua, kurator, mengungkapkan, “Kualitas dari submission pada festival tahun ini membuat proses seleksi sangat sulit, yang mana juga menunjukkan bagaimana RESILIENCE sebagai tema sangat selaras dan penting di masa sekarang.” Ia juga menambahkan, “Proyek-proyek yang kami pilih menghadirkan beragam estetika dan pendekatan yang mengangkat narasi tentang ketahanan dan perjuangan, sekaligus menyingkap kegigihan serta kerapuhan ingatan, semangat, dan sejarah. Saya berharap pameran ini dapat membuka ruang percakapan tentang bagaimana ketangguhan begitu lekat dengan cara kita menjalani kehidupan dan membangun komunitas. Meski secara geografis kita berjauhan, kisah-kisah yang dihadirkan dalam festival ini menghubungkan kita pada pengalaman yang lebih luas tentang apa artinya menjadi manusia dan memimpikan masa depan yang lebih baik.”

Liss Fenwick, “The Colony“

Yoppy Pieter, kurator, mengaku, “Proses seleksi mengubah pemahaman saya tentang makna resiliensi. Awalnya, saya membayangkan akan menemukan kisah-kisah tentang penderitaan, perjuangan, dan upaya untuk bangkit. Namun, yang muncul justru penafsiran yang jauh lebih luas. Karya-karya terpilih menghadirkan beragam pendekatan, mulai dari praktik kolaboratif, fotografi dokumenter klasik, hingga pendekatan konseptual dan eksperimental. Resiliensi tidak hanya hadir melalui pengalaman menghadapi krisis, tetapi juga melalui kepedulian, ingatan, keberanian, pelestarian budaya, hubungan dengan alam, dan tindakan kolektif. Yang paling membekas bagi saya adalah kejujuran setiap seniman dalam menyampaikan kisahnya, sekaligus bagaimana karya-karya ini mengajak kita melihat resiliensi bukan sekadar sebagai kemampuan untuk bertahan, tetapi juga sebagai keberanian untuk merawat, bertransformasi, dan membayangkan masa depan

Chantal Pinzi, “Farīsāt: Gunpowder’s Daughters”

“RESILIENCE hadir dalam beragam bentuk. Karya-karya yang terpilih tahun ini, bersama arah program festival, mencerminkan keberagaman tema, material, medium, latar sosial, dan lanskap emosional yang pada akhirnya saling terhubung. Kami menghadirkan proyek-proyek yang mengajak kita memberi perhatian dan kesadaran pada berbagai krisis yang kita hadapi sebagai sebuah komunitas, mulai dari sejarah personal dan keluarga, hingga gerakan akar rumput yang memperjuangkan kesejahteraan, keadilan iklim, dan penyelesaian konflik. Sekilas, semua itu mungkin tampak sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Namun, sesungguhnya semuanya terhubung dengan warisan politik dan struktur ekonomi yang secara sistemik membentuk dunia sebagaimana kita mengenalnya saat ini. Bagi saya, ketika kita berbicara tentang ketangguhan (resilience), kita juga sedang menyuarakan sebuah harapan: untuk kembali terhubung dan menjadi lebih kuat bersama.” ujar Nin Djani, program manager

Gui Christ, “M’kumba”
Yuki Furusawa, “Bye Bye Home Sweet Home

Proyek terpilih akan dipamerkan di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, mulai tanggal 11 hingga 20 September 2026, Cikini, Jakarta Pusat. Rincian lengkap mengenai jadwal dan lokasi pameran akan diumumkan mendekati tanggal festival. Silakan lihat daftar fotografer dan seniman yang akan memamerkan karya mereka di bawah ini:

  • Ahmed Alaqra – Palestina
  • Artem Humilevskyi – Ukraina
  • Chantal Pinzi – Italia
  • Duy-Phuong Le Nguyen – Vietnam
  • Federico estol – Uruguay
  • Gabriel Barreto Bentin – Peru 
  • Gui Christ – Brasil
  • Jake Homovich – America
  • Juliana Tan – Singapore
  • Karl Mancini – Italia
  • Kunga Tashi Lepcha – India
  • Liss Fenwick – Australia
  • Min Ma Naing – Myanmar
  • Natthaya Thaidecha – Thailand
  • Nicola Muirhead – Bermuda
  • Nopri Ismi – Indonesia
  • Ore Huiying – Singapore
  • Ryan Andrew – Indonesia
  • Santiago Escobar-Jaramillo – Colombia
  • Swastik Pal – India
  • Tace Stevens – Australia
  • Yuki Furusawa – Japan